Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Headline

Pejuang GEMPAR Ingatkan Pemda Parigi Moutong: Anak Daerah Bukan Penonton!

×

Pejuang GEMPAR Ingatkan Pemda Parigi Moutong: Anak Daerah Bukan Penonton!

Sebarkan artikel ini
Foto pejuang Pemekaran Kabupaten Parigi Moutong dengan nama GEMPAR saat di DPR RI .Sumber Foto : Arifin Lamalindu

Bisalanews.id, Parmout – Publik Parigi Moutong kini berada di titik penuh harap. Penetapan pimpinan tinggi pratama di era pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati, Erwin–Sahid, tidak lagi sekadar urusan administrasi, melainkan dipandang sebagai pertaruhan arah dan wajah birokrasi lima tahun ke depan.

Keputusan ini dianggap menentukan apakah pemerintahan baru benar-benar berpihak pada kepentingan daerah atau justru mengulang pola lama yang sarat kompromi politik.

Example 300x600

Pimpinan tinggi pratama yang akan dilantik tidak hanya diminta bekerja profesional, tetapi dituntut menjadi “mesin tempur” birokrasi yang mampu mengeksekusi agenda pembangunan secara tegas, cepat, dan berpihak pada rakyat.

Baca juga :  Empat Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Parimo Mengundurkan Diri: Dinas Sosial Siap Ajukan Penambahan SDM

Namun, di tengah harapan tersebut, kegelisahan publik justru menguat. Di warung kopi hingga ruang-ruang diskusi elit lokal, spekulasi tentang komposisi “skuad” Erwin–Sahid kian liar dan tak terbendung.

Isu “impor pejabat” dari luar Parigi Moutong menjadi bola panas. Dugaan ini memantik kecemasan bahwa putra-putri daerah kembali hanya akan menjadi penonton di rumahnya sendiri.

Situasi ini mencerminkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Masyarakat berharap pemerintahan baru tidak menutup mata terhadap kapasitas anak daerah yang dinilai lebih memahami denyut sosial, budaya, dan persoalan riil Parigi Moutong.

Di tengah panasnya spekulasi, suara keras datang dari Pejuang Pemekaran Kabupaten Parigi Moutong (GEMPAR). Arifin Lamalindu menilai, jika penetapan pejabat mengabaikan putra-putri daerah, maka itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap sejarah perjuangan pemekaran.

Baca juga :  Di Potong 15 Persen Perdis : Pejabat Dinsos Geram

“Pemekaran Parigi Moutong yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri saat itu, Hari Sabarno, jelas bertujuan mendekatkan pelayanan kepada rakyat dan membuka lapangan kerja bagi anak asli daerah,” tegas Arifin.Kamis,(29/01/2026)

Ia mengingatkan, pemekaran bukan proyek simbolik, melainkan jawaban atas pembengkakan pengangguran di berbagai jenjang pendidikan yang kala itu semakin mengkhawatirkan.

“Kalau hari ini pejabat yang dilantik justru tidak mengakomodir putra-putri daerah, maka saya berani berkata ini sudah lari dari ruh perjuangan pemekaran itu sendiri,” katanya dengan nada keras.

Baca juga :  Pemda Parigi Moutong Resmi Buka Manasik Haji 2026, 100 Calon Jamaah Ikuti Pembekalan

Arifin bahkan mewarning Pemerintah Daerah Parigi Moutong agar tidak salah langkah dalam menata birokrasi awal pemerintahan Erwin–Sahid.

“Kalau mau serius membangun daerah, maka pejabatnya harus anak-anak Parigi Moutong. Merekalah pewaris dan pelanjut cita-cita GEMPAR. Kalau salah meletakkan pilihan, saya hanya bisa mengatakan innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ujarnya.

Kini, publik Parigi Moutong menunggu hasil dari semua spekulasi publik. Siapa yang akan mengisi kursi strategis pimpinan tinggi pratama akan menjadi jawaban telanjang atas semua spekulasi tersebut.

Total Views: 2863

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *