Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Bencana alam

25 Unit Huntara Torue Tak Berpenghuni

×

25 Unit Huntara Torue Tak Berpenghuni

Sebarkan artikel ini
Deretan bangunan Hunian sementara bagi penyintas bencana torue yang tampak tak berpenghuni.(Foto.Ipal)

Bisalanews.id – Sebanyak 25 Unit Bangunan Hunian sementara (Huntara) Pasca Bencana di Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi tengah belum di huni oleh penyintas bencana.

Pasalnya, selain tidak dihuni, bangunan tersebut justru telah mengalami kerusakan dan terkesan buang-buang anggaran.

Example 300x600

Pada Februari 2023 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah menyerahkan 52 Unit Huntara pasca bencana banjir yang diserahkan langsung oleh Kepala Pelaksana Drs. Arfan, M.Si.

Baca juga :  Ketua DPRD Parigi Moutong dan Pj Bupati Dampingi Anggota Komisi VIII DPR RI Kunjungi Palasa Pasca Banjir Bandang

Huntara yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 52 unit dan tersebar di permukiman masyarakat sebanyak 27 unit dan 25 unit lainnya di bangun di pesisir pantai Pasigi, Desa Torue.


“Jadi tanggung jawab kami dari provinsi sudah selesai membangun fisiknya, nanti kelanjutannya Pemda Kabupaten Parigi Moutong diantaranya sambungan Air dan listrik dan fasilitas pendukung lainnya,” Kata Arfan. Kamis (02/02/2023) lalu.

Baca juga :  Dusun VI Simbulangan di Desa Toribulu Terisolir Akibat Banjir


Saat ini 25 unit bangunan Huntara tersebut justru dikeluhkan warga, pasalnya, selain diselimuti rumput, tiang pondasi bangunan tersebut mulai keropos.


Ahlidin, warga desa torue yang ditemui sejumlah media mengatakan, memang selama diserahkannya bangunan huntara tersebut tidak ada warga yang menempatinya. Dengan alasan tidak ada air dan lampu penerangan.

Baca juga :  Dua Kali Pengiriman Logistik Pilkada ke KPU Parigi Moutong, Surat Suara Masih Dalam Tahap Desain


“Ada 25 unit huntara di pantai Pasigi itu tidak dihuni, justru yang mendapatkan bantuan itu hanya menumpang di rumah keluarganya hingga saat ini,” ungkap Ahlidin beberapa hari lalu.


Kata dia, saat diundang masyarakat, pihaknya keberatan untuk tinggal di lokasi tersebut karena fasilitas seperti air dan lampu penerangan tidak ada.


“Sejak awal hingga diserahkan bangunan Huntara itu, sama sekali tidak pernah ditinggali, justru sudah banyak bangunannya yang mulai rusak,” pungkasnya.

Total Views: 675

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *