
Bisalanews.id, Kepulauan Talaud – Wilayah Pantai Timur Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, diguncang gempabumi tektonik pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 21.58.25 WIB.
Guncangan gempa tersebut dirasakan cukup luas hingga ke sejumlah daerah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dr. Daryono, S.Si., M.Si, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis terbaru BMKG, gempa tersebut memiliki magnitudo M6,4.
“Episenter gempabumi terletak pada koordinat 3,76° Lintang Utara dan 126,95° Bujur Timur, atau tepatnya berada di laut sekitar 40 kilometer tenggara Melonguane, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 31 kilometer,” ujar Daryono di Jakarta, Sabtu (10/01/2026).
Menurut Daryono, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi ini tergolong sebagai gempabumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas deformasi batuan di Lempeng Maluku.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar turun (oblique normal),” jelasnya.
BMKG mencatat dampak guncangan gempa dirasakan cukup signifikan di beberapa wilayah.
Di Kepulauan Talaud, gempa dirasakan dengan skala intensitas IV–V MMI, di mana getaran dirasakan hampir oleh seluruh penduduk, sebagian orang terbangun dari tidur, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, serta benda besar dan tiang-tiang tampak bergoyang.
Sementara itu, di wilayah Tobelo dan Sitaro, gempa dirasakan dengan intensitas III–IV MMI, sedangkan di Morotai dirasakan dengan skala III MMI.
Adapun wilayah Ternate, Minahasa Utara, Manado, dan Bitung merasakan getaran dengan intensitas II–III MMI, yang dirasakan nyata di dalam rumah seperti getaran truk melintas.
Meski guncangan dirasakan cukup luas, BMKG menegaskan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
“Berdasarkan hasil pemodelan yang telah dilakukan, gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami,” tegas Daryono.
Hingga pukul 22.20 WIB, hasil monitoring BMKG mencatat adanya satu kali gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo M4,6.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memastikan informasi resmi hanya bersumber dari kanal komunikasi BMKG yang telah terverifikasi, seperti media sosial @infoBMKG, situs resmi BMKG, InaTEWS, kanal Telegram BMKG, serta aplikasi resmi wrs-bmkg dan infobmkg,” pungkasnya.
















