Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahOpini

Dari 16 Jadi 53 Titik: Siapa Bermain di Balik Dokumen WPR Parimo?

×

Dari 16 Jadi 53 Titik: Siapa Bermain di Balik Dokumen WPR Parimo?

Sebarkan artikel ini
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong. Foto:Fita

Bisalanews.id, Parmout — Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menilai polemik 53 titik Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang tengah ramai diperbincangkan bukan lagi sekadar persoalan administrasi atau data, melainkan menyangkut wibawa dan kejujuran pemerintahan daerah.

Menurut Faradiba, publik sebelumnya hanya mengetahui adanya 16 titik usulan WPR. Namun, dalam dokumen resmi yang ditandatangani langsung oleh Bupati Parigi Moutong, jumlah tersebut meningkat menjadi 53 titik.

Example 300x600

“Pertanyaannya sederhana: siapa yang menambah, atas dasar apa, dan bagaimana mungkin seorang kepala daerah menandatangani dokumen tanpa memahami isinya secara utuh?” tegas Faradiba.

Baca juga :  Erwin Burase Tegas: Tambang Ilegal Harus Ditertibkan, Pertanian Harus Diselamatkan

Ia menilai, perbedaan data tersebut menimbulkan keraguan di tengah masyarakat terhadap integritas birokrasi.

“Publik mulai bertanya-tanya, apakah pemerintahan di Parigi Moutong masih berjalan berdasarkan sistem, atau justru diwarnai oleh kedekatan dan kepentingan di balik meja kekuasaan,” ujarnya.

Faradiba juga menyoroti sikap pemerintah daerah yang dinilai tidak mampu meredam situasi. Alih-alih memberikan klarifikasi yang menenangkan, menurutnya, justru muncul saling bantah, saling salahkan, dan pernyataan blunder dari sejumlah pihak.

“Rakyat tidak butuh drama atau pembelaan diri. Mereka hanya butuh kepemimpinan yang tegas, jujur, dan paham apa yang terjadi di bawah tanggung jawabnya,” kata Faradiba.

Baca juga :  KONI Parigi Moutong Matangkan Persiapan PORKAB 2025, Libatkan 27 Cabor

Ia menegaskan, seorang Bupati seharusnya menjadi penenang badai, bukan bagian dari pusarannya. Jika memang ada manipulasi atau kesalahan internal, seharusnya diselesaikan secara tertutup, bermartabat, dan tuntas tanpa menjadikan ruang publik sebagai ajang lempar kesalahan.

“Semakin sering pejabat berbicara tanpa arah, semakin terlihat lemahnya koordinasi dan kontrol di dalam pemerintahan ini. Bila dibiarkan, bukan hanya kredibilitas yang runtuh, tapi juga kepercayaan rakyat yang selama ini bertahan karena harapan,” tegasnya.

Baca juga :  Bappelitbangda Parigi Moutong Tunda Pembahasan Kick Off Meeting PPSP

Faradiba menyebut, persoalan 53 titik WPR seharusnya menjadi momentum koreksi, bukan panggung pencitraan politik.
“Kepemimpinan itu tidak diukur dari seberapa keras seseorang membela diri, tetapi dari seberapa tenang dan tuntas ia menyelesaikan kekacauan yang lahir dari sistemnya sendiri,” tandasnya.

Ia menutup dengan pesan keras kepada pemerintah daerah:
“Jika Bupati masih terus sibuk berbicara di depan media, sementara masalah di meja kerja tidak diselesaikan, maka rakyat berhak bertanya: Apakah Parigi Moutong masih dipimpin, atau hanya sedang dipertontonkan?”

Total Views: 3810

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *