
Bisalanews.id, Parmout – Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong, Darlin, mengungkapkan rencana peluncuran program inovatif bertajuk SIMPATIK saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) evaluasi pelayanan kesehatan bersama DPRD setempat.
Program tersebut dijadwalkan akan diluncurkan pada 10 April, bertepatan dengan momentum hari ulang tahun Kabupaten Parigi Moutong.
Dalam keterangannya, Darlin menyampaikan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya pembenahan layanan kesehatan di daerah.
“Insya Allah tanggal 10, bertepatan dengan hari ulang tahun Kabupaten Parigi Moutong, kami akan melaunching program yang kami namakan SIMPATIK,” ujarnya. Senin (06/04/2026)
Ia menjelaskan, SIMPATIK merupakan akronim dari Siap Melayani Sepenuh Hati Bidang Kesehatan. Program ini menyasar peningkatan kualitas pelayanan di 24 puskesmas dan tiga rumah sakit yang ada di wilayah tersebut.
“Karakteristik pelayanan ini, substansinya adalah bagaimana teman-teman kami di puskesmas mampu memberikan pelayanan yang humanis sejak awal pasien datang,” jelas Darlin.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penerapan budaya 3S dalam pelayanan. “Ketika pasien datang, itu harus disambut dengan senyum, sapa, santun, bahkan jika perlu disertai salam sebagai bentuk penghormatan,” katanya.
Menurutnya, penggunaan bahasa daerah juga menjadi kunci dalam membangun komunikasi yang efektif.
“Kami lebih menekankan penggunaan bahasa daerah supaya interaksi lebih dekat dan komunikasi lebih mudah dipahami masyarakat,” tambahnya.
Darlin memaparkan bahwa implementasi SIMPATIK akan dilakukan dalam tiga tahap.
Pada tahap pertama, fokus pada pelayanan dasar yang ramah dan informatif.
“Pasien harus mendapatkan informasi yang jelas, mau ke mana, ke loket mana, tidak boleh ada kebingungan saat datang berobat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan bagi pasien dan keluarga. “Kadang-kadang keluarga kita datang berobat itu bingung, menunggu lama tanpa informasi. Nah, ini yang ingin kita perbaiki dengan pendampingan aktif dari petugas,” ungkapnya.
Memasuki tahap kedua, Dinkes akan menghadirkan inovasi tambahan berupa layanan sederhana namun bermakna.
“Kami siapkan welcome drink, walaupun hanya air putih, bahkan ada yang siap menyediakan minuman herbal untuk pasien dan keluarga,” jelas Darlin.
Selain itu, suasana ruang tunggu akan dibuat lebih nyaman. “Kami juga akan menghadirkan musik refleksi supaya pasien tidak tegang atau terbebani saat menunggu pelayanan,” katanya.
Pada tahap ketiga, Dinkes merancang edukasi kesehatan berbasis video dengan pendekatan lokal.
“Kami ingin membuat video dengan pemeran masyarakat setempat, menggunakan bahasa daerah, agar pesan kesehatan lebih mudah diterima,” ujarnya.
Ia menambahkan, materi video akan fokus pada edukasi kehamilan hingga persalinan.
“Mulai dari sebelum hamil sampai melahirkan, semua pesan akan disampaikan secara visual, karena ini lebih efektif dibandingkan pamflet,” katanya.
Darlin juga mengungkapkan capaian positif di sektor kesehatan daerah. “Alhamdulillah, dari Januari sampai 6 April 2026, angka kematian ibu melahirkan masih nol. Ini tentu harus kita pertahankan,” ungkapnya.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari upaya peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Ini menjadi rapor pemerintah daerah yang harus terus kami tingkatkan agar pelayanan semakin baik,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga menyinggung penguatan sistem rujukan melalui pemanfaatan teknologi.
“Kami menggunakan aplikasi SISRUTE sesuai regulasi Kementerian Kesehatan tahun 2020, untuk memastikan pelayanan rujukan berjalan cepat dan tepat,” tutup Darlin.
















