
Bisalanews.id, Parmout – Kekeringan yang melanda Dusun 1, 2, dan 3 Desa Jono Kalora, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Kondisi tersebut telah berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air bersih.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Parigi Moutong, Rivai S.T., mengatakan bahwa berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (PUSDALOPS) BPBD, kelangkaan air bersih di Desa Jono Kalora sebenarnya telah terjadi sejak tahun lalu dan semakin memburuk akibat kemarau panjang yang berlangsung sejak awal Januari 2026.
“Kondisi kekeringan ini diperparah oleh minimnya curah hujan, sehingga debit sejumlah sumber air masyarakat mengalami penurunan drastis, bahkan ada yang mengering,” ujar Rivai, Jumat (03/01/2026).
Ia menjelaskan, salah satu sumber air utama warga, yakni Sungai Jono Kalora, saat ini mengalami penyusutan debit hingga nyaris mengering.
Hal tersebut menyebabkan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Akibat kekeringan tersebut, tercatat sebanyak 421 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung. Warga terpaksa mencari sumber air dari luar desa dengan jarak yang cukup jauh.
“Warga Dusun 3 harus mengambil air ke sumber air Lebo, Dusun 2 ke wilayah Bambalemo, sementara Dusun 1 ke Baliara. Ini tentu sangat memberatkan masyarakat,” ungkap Rivai.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, BPBD Parigi Moutong bersama aparat pemerintah desa setempat telah melakukan asesmen lapangan dan koordinasi untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Sebagai upaya penanganan darurat, BPBD Parigi Moutong saat ini melaksanakan dropping air bersih ke Desa Jono Kalora menggunakan trailer tangki milik BPBD.
Penyaluran air bersih tersebut direncanakan berlangsung selama beberapa hari ke depan guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Dropping air bersih ini dilakukan sebagai langkah sementara untuk membantu masyarakat, sambil terus memantau perkembangan kondisi di lapangan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini kondisi kekeringan masih melanda wilayah tersebut. Oleh karena itu, pemantauan dan upaya mitigasi terus dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Rivai juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan menggunakan air secara bijak serta efisien selama masa kekeringan berlangsung.
“Kami mengajak masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan mengikuti arahan dari pemerintah desa serta petugas di lapangan,” pungkasnya.
















