
Bisalanews.id, Parmout – Ketua Fraksi PDI-Perjuangan DPRD Kabupaten Parigi Moutong, Nurul Qiram, melaksanakan agenda Reses Masa Persidangan Tahun 2026 di Desa Ulatan, Kecamatan Palasa, Sabtu (25/04/2026).
Kegiatan ini tidak hanya dilakukan melalui forum pertemuan resmi, tetapi juga dengan metode silaturahmi langsung dari rumah ke rumah (door to door) guna menjangkau aspirasi masyarakat secara lebih menyeluruh.
Reses tersebut dihadiri oleh kepala dusun, tokoh masyarakat, pemuda, serta tokoh perempuan. Dalam dialog yang berlangsung terbuka, warga menyampaikan berbagai kebutuhan mendasar yang selama ini menjadi kendala pembangunan di desa mereka.
Dari hasil penyerapan aspirasi, terungkap sejumlah akar persoalan yang dihadapi masyarakat Desa Ulatan. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas keagamaan yang belum memadai, baik untuk umat Muslim maupun Kristen. Kondisi ini dinilai menghambat kenyamanan dan kualitas aktivitas ibadah masyarakat.
Selain itu, lemahnya dukungan terhadap sektor ekonomi produktif juga menjadi sorotan utama. Para petani mengeluhkan minimnya akses terhadap alat dan mesin pertanian (alsintan), yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan efisiensi kerja.
Di sisi lain, kelompok pekerja laki-laki di bidang pertukangan masih kekurangan peralatan yang memadai untuk meningkatkan kapasitas usaha mereka.
Permasalahan serupa juga dialami oleh kelompok perempuan. Keterbatasan sarana pendukung, seperti alat memasak bagi ibu-ibu PKK, menjadi hambatan dalam mengembangkan usaha ekonomi kreatif berbasis rumah tangga. Hal ini menunjukkan belum optimalnya pemberdayaan perempuan sebagai salah satu pilar ekonomi desa.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Nurul Qiram menegaskan komitmennya untuk mengawal seluruh aspirasi warga hingga ke tahap pembahasan anggaran di DPRD.
Ia menilai, persoalan yang disampaikan masyarakat bukan sekadar kebutuhan sesaat, melainkan bagian dari masalah struktural yang harus diselesaikan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya soal bantuan semata, tetapi bagaimana kita melihat akar persoalan—mulai dari keterbatasan fasilitas ibadah, rendahnya dukungan alat produksi, hingga belum maksimalnya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semua ini akan kami perjuangkan agar masuk dalam program prioritas daerah,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, Nurul Qiram juga menyerahkan sejumlah bantuan langsung kepada masyarakat, baik secara pribadi maupun untuk kelompok.
Bantuan tersebut diharapkan menjadi stimulus sambil menunggu realisasi program yang lebih besar melalui kebijakan pemerintah daerah.
Pendekatan door to door yang dilakukan dalam reses ini mendapat apresiasi dari warga. Mereka menilai metode tersebut lebih efektif dalam menggali persoalan riil di lapangan, termasuk keluhan yang seringkali tidak tersampaikan dalam forum formal.
Melalui kegiatan reses ini, diharapkan terjadi sinkronisasi antara kebutuhan masyarakat dan kebijakan pembangunan daerah, sehingga program yang dihasilkan benar-benar menjawab akar persoalan dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga secara berkelanjutan.
















