
Bisalanews.id, Parmout – Memasuki usia ke-24 tahun sejak berdiri pada 2002, Kabupaten Parigi Moutong mencatat perjalanan panjang pembangunan daerah yang dipimpin oleh tiga bupati pilihan rakyat, yakni Longki Djanggola, Samsurizal Tombolotutu, dan Erwin Burase.
Selama lebih dari dua dekade, arah pembangunan daerah ini mengalami transformasi bertahap, mulai dari fase perintisan, penguatan, hingga penyesuaian terhadap tantangan zaman yang semakin kompleks.
Pada masa awal kepemimpinan Longki Djanggola, fokus utama pembangunan diarahkan pada peletakan fondasi daerah otonomi baru.
Infrastruktur dasar seperti jalan, kantor pemerintahan, serta layanan publik mulai dibangun dari kondisi yang sangat terbatas.
Konektivitas antar wilayah yang sebelumnya terisolasi perlahan mulai terbuka, menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Memasuki periode kepemimpinan Samsurizal Tombolotutu, pembangunan mengalami percepatan yang cukup signifikan.
Sektor pertanian dan perikanan diperkuat sebagai tulang punggung ekonomi daerah, didukung dengan pembangunan infrastruktur yang lebih luas.
Pelayanan publik mulai mengalami peningkatan, dan identitas daerah semakin dikenal di tingkat regional maupun nasional.
Namun di balik capaian tersebut, tantangan pemerataan pembangunan masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.
Beberapa wilayah masih tertinggal dalam hal akses infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Ketergantungan pada sektor primer juga membuat ekonomi masyarakat rentan terhadap perubahan harga dan kondisi alam.
Memasuki era kepemimpinan Erwin Burase, arah pembangunan mulai menitikberatkan pada pembenahan tata kelola pemerintahan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Upaya digitalisasi layanan dan peningkatan kinerja birokrasi menjadi fokus dalam menjawab tuntutan masyarakat yang semakin dinamis.
Meski demikian, tantangan klasik seperti kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, serta kesenjangan antar wilayah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bertahap.
Selain itu, ancaman bencana alam dan isu lingkungan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembangunan ke depan.
Refleksi 24 tahun ini menunjukkan bahwa setiap periode kepemimpinan memberikan kontribusi dalam membangun Parigi Moutong sesuai dengan konteks zamannya.
Fondasi yang dibangun pada masa awal, penguatan pada periode berikutnya, hingga upaya pembenahan saat ini menjadi satu rangkaian proses yang saling melengkapi.
Momentum hari jadi ini menjadi titik evaluasi bersama, bahwa pembangunan tidak hanya soal capaian fisik, tetapi juga bagaimana memastikan keadilan dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, Parigi Moutong diharapkan mampu melangkah lebih maju di masa yang akan datang.
















