Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Uncategorized

Tragedi Kilometer 8 Kebun Kopi: Impian yang Tak Pernah Sampai

×

Tragedi Kilometer 8 Kebun Kopi: Impian yang Tak Pernah Sampai

Sebarkan artikel ini
Foto.UIN Datokarama Palu.

Bisalanews.id,Parmout– Aspal jalanan di Kilometer 8 Kebun Kopi, Parigi Moutong, menjadi saksi bisu atas tragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang mahasiswi.

Naila (19), yang tengah dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Desa Ginunggung, Kabupaten Tolitoli, tak pernah sampai ke tujuan.

Example 300x600

Di dalam tasnya, tersimpan mukena baru dan baju koko putih bertuliskan “Buat Mama.” Sebuah hadiah sederhana, namun sarat makna, yang seharusnya diberikan kepada orang tuanya saat tiba di rumah.

Namun, takdir berkata lain.Perjalanan mudik yang seharusnya membawa kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam.

Kendaraan yang ditumpangi Naila dan rekannya mengalami kecelakaan tragis.

Naila meninggal di tempat, sementara rekannya mengalami luka parah—dengan kondisi kaki yang dikabarkan putus.

Baca juga :  Polres Parigi Moutong Eksekusi Tiga Ekskavator Tambang Emas Ilegal di Kayuboko

“Dia anak yang baik, sangat sayang sama orang tuanya,” ujar seorang kerabat dengan suara tercekat menahan tangis.

Warga sekitar yang pertama kali tiba di lokasi hanya bisa menggelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

Hamid Maddusila, salah satu warga yang ikut mengevakuasi korban, mengungkapkan bahwa jenazah Naila langsung ditangani oleh Unit Laka Lantas Polres Parigi Moutonh.

Kabar duka ini dengan cepat menyebar di media sosial. Doa-doa mengalir dari banyak orang, bahkan dari mereka yang tidak mengenal Naila secara pribadi.

“Semoga husnul khatimah. Bayangkan, hadiah untuk orang tua, tidak sempat diberikan,” tulis seorang warganet, menggambarkan kesedihan yang dirasakan banyak orang.

Baca juga :  Pemkab Banggai Berhentikan 11 Perangkat Desa, Termasuk 7 Kades

Di Desa Ginunggung, keluarga Naila tengah mempersiapkan pemakamannya.

Mukena dan baju koko putih itu, mungkin akan tetap diberikan—bukan untuk dipakai, melainkan sebagai kenangan terakhir dari seorang anak yang begitu mencintai orang tuanya.Sementara itu, di Kilometer 8 Kebun Kopi, jejak tragedi masih membekas.

Jalanan yang biasanya menjadi jalur mudik penuh harapan, kini menjadi pengingat betapa hidup bisa berubah dalam sekejap.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi resmi dari pihak berwajib mengenai kronologi lengkap kecelakaan yang merenggut nyawa Naila.

Namun, di sebuah grup WhatsApp yang diduga berisi teman-teman almarhumah, tersebar pesan menyayat hati:”Barusan dapat kabar katanya mereka itu pelan-pelan bawa motor di pinggir.

Baca juga :  Warga Baliara Tolak Tambang Sirtu Diduga Dikelola Oknum Polisi di Polres Parigi Moutong

Cuma tiba-tiba ada mobil yang ba lambung lalu menyeret mereka.Makanya sampai habis kakinya dan bahkan isi kepalanya keluar. Ya Allah, semoga kita semua dalam grup ini beserta keluarga kita selalu dalam lindungan Allah.

“Pesan itu menyisakan luka yang mendalam. Duka tak hanya milik keluarga, tapi juga sahabat, teman, dan mereka yang turut merasakan kehilangan meski tak mengenal secara langsung.

Naila telah pergi, namun kisahnya akan selalu dikenang—tentang seorang anak yang pulang membawa kasih, namun tak sempat sampai ke pelukan orang tua.

Total Views: 3537

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *