Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Pendidikan

Disdikbud Parigi Moutong Perkuat Pelestarian 4 Bahasa Lokal Lewat Dunia Pendidikan

×

Disdikbud Parigi Moutong Perkuat Pelestarian 4 Bahasa Lokal Lewat Dunia Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong Sulawesi Tengah, Ninong Pandake saat menyampaikan materi dalam Konsolidasi Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Parigi Moutong di aula Disdikbud, Senin (11/05/2026). – Foto : MRP

Bisalanews.id, Parmout – Di tengah arus modernisasi dan derasnya pengaruh budaya luar, Kabupaten Parigi Moutong menghadapi tantangan serius dalam menjaga eksistensi budaya lokal, bahasa daerah, hingga tradisi masyarakat yang mulai tergerus di kalangan generasi muda.

Minimnya pemahaman anak-anak terhadap budaya daerah menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Example 300x600

Kondisi tersebut disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan, Ninong Pandake saat mengisi materi pada kegiatan Konsolidasi Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Parigi Moutong di aula Disdikbud, Senin (11/05/2026).

Menurut Ninong Pandake, perkembangan teknologi digital dan perubahan pola hidup masyarakat membuat banyak generasi muda mulai jauh dari budaya daerahnya sendiri. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang lebih mengenal budaya luar dibanding tradisi lokal yang tumbuh di lingkungan mereka.

“Pelestarian budaya saat ini menjadi tantangan besar. Anak-anak sekarang lebih cepat menyerap budaya luar melalui media digital dibanding mengenal budaya daerahnya sendiri,” ujarnya.

Ia menilai, jika kondisi tersebut tidak segera diantisipasi, maka warisan budaya daerah berpotensi hilang secara perlahan karena tidak lagi dikenal oleh generasi penerus.

Karena itu, dunia pendidikan dinilai menjadi sektor paling strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal melalui penguatan pembelajaran budaya, bahasa daerah, seni tradisional dan nilai-nilai kearifan lokal di sekolah.

Baca juga :  UIN Datokarama Palu Gelar Pelatihan Soft Skill untuk 300 Mahasiswa KIP Kuliah

“Dan kebudayaan yaitu mengenalkan nilai tradisi, bahasa, seni serta kearifan lokal kepada generasi selanjutnya, tentunya anak-anak di satuan pendidikan,” jelasnya.

Ninong mengungkapkan, salah satu persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah mulai berkurangnya penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga maupun sekolah. Bahkan, beberapa bahasa lokal di Parigi Moutong terancam kehilangan penutur aktif jika tidak dilakukan langkah pelestarian sejak dini.

Ia mencontohkan bahasa Tialo yang hingga kini masih belum masuk dalam peta bahasa nasional dan masih dianggap bagian dari rumpun bahasa Dondo di Kabupaten Tolitoli.

“Bahasa Tialo ini belum diakui sebagai bahasa tersendiri dalam peta bahasa nasional, padahal masyarakat penuturnya ada dari Tomini sampai Moutong,” katanya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Disdikbud Parigi Moutong bekerja sama dengan Balai Bahasa melaksanakan program revitalisasi bahasa daerah melalui penelitian, pendataan serta penguatan penggunaan bahasa lokal di masyarakat dan sekolah.

Selain masalah bahasa, keterbatasan tenaga pengajar muatan lokal juga menjadi tantangan dalam pengembangan pendidikan budaya di sekolah-sekolah.

Menurut Ninong, saat ini masih banyak sekolah yang belum memiliki guru khusus untuk mengajarkan budaya dan bahasa daerah secara maksimal.

Karena itu, pada tahun 2026 Disdikbud akan mulai melaksanakan pelatihan tenaga pengajar muatan lokal bagi guru SD dan SMP di Kabupaten Parigi Moutong.

Baca juga :  Plt Kadisdikbud Parimo Melepas Tim GSI SMP parimo

“Kami akan melatih guru-guru terlebih dahulu agar nantinya mereka mampu mengajarkan budaya lokal kepada peserta didik,” terangnya.

Ia menjelaskan, pengembangan materi budaya lokal akan difokuskan pada empat suku besar di Parigi Moutong yakni Kaili, Lauje, Tajio dan Tialo.

Penyusunan bahan ajar akan melibatkan akademisi, tokoh budaya serta penutur asli dari masing-masing wilayah agar materi yang diajarkan benar-benar sesuai dengan identitas budaya masyarakat setempat.

Tidak hanya itu, keterbatasan anggaran juga menjadi kendala dalam pelaksanaan berbagai program kebudayaan di daerah.

Ninong mengakui, efisiensi anggaran membuat sejumlah program harus dilaksanakan dengan dukungan berbagai pihak, termasuk sekolah-sekolah.

Salah satunya pada Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah yang selama ini menjadi wadah pengenalan seni budaya kepada siswa.

“Karena efisiensi anggaran, kami hanya mampu menganggarkan honor seniman. Untuk bahan ajar dan kebutuhan pendukung lainnya kami berharap dukungan dari pihak sekolah,” ungkapnya.

Program tersebut menghadirkan seniman lokal untuk mengajarkan musik tradisional, tari, sastra, film hingga fotografi kepada peserta didik secara langsung di sekolah.

Selain melalui pembelajaran langsung, Disdikbud juga mulai memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.

Beberapa waktu lalu, pihaknya menggelar pemutaran tiga film karya anak daerah yang mengangkat budaya lokal Parigi Moutong dan dihadiri ratusan pelajar SD dan SMP di Kota Parigi.

Baca juga :  Disdikbud Parigi Moutong Prioritaskan 79 Sekolah Terpencil, Revitalisasi Diusulkan Lewat APBN

Menurut Ninong, pendekatan melalui film dinilai lebih efektif karena anak-anak lebih mudah memahami budaya melalui visual dan media digital.

“Kalau hanya diajar biasa mungkin anak-anak kurang respon, tetapi melalui film mereka lebih cepat memahami budaya daerah,” tuturnya.

Di sisi lain, Disdikbud Parigi Moutong juga terus mendorong pelestarian budaya melalui Festival Gampiri atau Gelar Budaya Masyarakat Parigi Moutong yang melibatkan pelajar dari berbagai kecamatan.

Festival tersebut menampilkan berbagai permainan tradisional, olahraga rakyat hingga pentas seni budaya daerah sebagai upaya menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal.

Selain itu, Balai Bahasa juga akan melakukan pengawasan penggunaan bahasa Indonesia di sekolah dan instansi pemerintah.

Ninong menilai, masih banyak penggunaan istilah asing di lingkungan pendidikan yang seharusnya dapat diganti dengan bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia harus diutamakan, kemudian bahasa daerah, baru bahasa asing,” tegasnya.

Ia berharap seluruh pihak, terutama dunia pendidikan, dapat bersinergi dalam menjaga budaya lokal agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

“Pelestarian budaya lokal tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan dukungan semua pihak agar generasi muda menjadi penerus yang bangga dan mampu menjaga warisan budaya daerah untuk masa depan,” pungkasnya.

Total Views: 12

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *