
Bisalanews.id – Memasuki malam ke-27 bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai penjuru dunia semakin meningkatkan ibadah dengan harapan meraih keberkahan Lailatul Qadar, malam yang dalam ajaran Islam disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Keutamaan malam tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Qadr ayat 3:
“Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Ayat ini menjelaskan betapa besar kemuliaan malam Lailatul Qadar. Ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang melebihi ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun.
Dalam berbagai kajian keislaman, para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Karena itu, malam ke-27 sering menjadi salah satu malam yang paling dinantikan oleh umat Islam untuk memperbanyak ibadah.
Ulama besar seperti Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa umat Islam dianjurkan menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan ibadah, karena waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti. Hal ini bertujuan agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tidak hanya bergantung pada satu malam tertentu.
Sementara itu, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Lailatul Qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an dan malam yang dipenuhi keberkahan serta rahmat Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beribadah dengan penuh keikhlasan.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Imam Al-Ghazali yang menekankan bahwa malam-malam terakhir Ramadhan adalah momentum spiritual untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT. Menurutnya, malam-malam tersebut menjadi kesempatan emas bagi umat Islam untuk memperbanyak doa, istighfar, dan amal kebaikan.
Selain meningkatkan ibadah pribadi seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan berzikir, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa. Salah satu doa yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika mencari Lailatul Qadar adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Suasana masjid pada malam ke-27 Ramadhan biasanya dipenuhi jamaah yang melaksanakan qiyamul lail dan tadarus Al-Qur’an. Banyak umat Muslim juga memanfaatkan malam tersebut untuk memperbanyak sedekah dan amal kebajikan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Para ulama mengingatkan bahwa esensi dari malam-malam terakhir Ramadhan bukan sekadar mencari malam tertentu, melainkan memperkuat keimanan dan memperbaiki kualitas ibadah secara keseluruhan.
Dengan semangat spiritual yang semakin meningkat di penghujung Ramadhan, umat Islam berharap dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar serta keluar dari bulan suci ini dengan hati yang lebih bersih, penuh ampunan, dan siap menjalani kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan yang lebih kuat.
















