Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahEkonomi

Pemprov Sulteng Dorong Motif Bomba Parigi Moutong Jadi Ikon Budaya Daerah

×

Pemprov Sulteng Dorong Motif Bomba Parigi Moutong Jadi Ikon Budaya Daerah

Sebarkan artikel ini
Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Farid Rifai, S.Sos., M.S.,. (Foto: Fita)

Bisalanews.id, Parmout – Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Farid Rifai, S.Sos., M.S., menegaskan pentingnya penguatan motif budaya lokal sebagai identitas daerah sekaligus penggerak ekonomi masyarakat (17/12/2025).

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada acara puncak Sayembara Motif Budaya Parigi Moutong dengan tema “Menggali Warisan Motif Budaya Lokal dalam Ragam Warna Persatuan”.

Example 300x600

Dr. Farid menjelaskan bahwa penetapan suatu motif sebagai ikon daerah tidak dapat dilepaskan dari akar budaya masyarakat Lembah Kaili yang meliputi empat wilayah, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong.

“Kalau kita berbicara budaya Kaili, maka tidak bisa dilepaskan dari empat daerah ini. Karena itu, motif yang diangkat harus mencerminkan identitas bersama,” ujarnya.

Baca juga :  Wakil bupati parigi moutong pimpin upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional Ke 115 Tingkat kabupaten Parigi Moutong

Ia mencontohkan perkembangan batik di Pulau Jawa yang memiliki ragam motif berbeda di setiap daerah, seperti Jogja, Solo, hingga Pekalongan, namun tetap berada dalam satu payung budaya. Menurutnya, hal serupa dapat diterapkan di Sulawesi Tengah melalui penguatan motif bomba sebagai ciri khas daerah.

“Bomba itu sama kedudukannya dengan batik. Bisa ada bomba motif Parigi Moutong, bomba motif Palu, bomba motif Sigi, maupun bomba motif Donggala. Bombanya yang kita angkat, karena itu budaya lokal kita,” tegasnya.

Dr. Farid optimistis, jika dikembangkan secara serius, bomba dapat menjadi produk unggulan Sulawesi Tengah dan bahkan menjadi pesaing batik. Ia menilai sektor busana berbasis budaya lokal memiliki potensi besar karena cepat diproduksi dan mampu memberikan perputaran ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.

Baca juga :  Kapolsubsektor Mepanga dan Forum Anak Perisai Muda Edukasi Siswa SMPN 3 Mepanga tentang Anti-Bullying dan Tertib Lalu Lintas

Lebih lanjut, ia mendorong agar Parigi Moutong sebagai wilayah dengan jumlah penduduk besar dapat menjadi pusat pengembangan tenun dan motif bomba melalui pembentukan kampung tenun. Motif hasil sayembara, khususnya karya terbaik, diharapkan dapat dimasifkan dan diajarkan kepada masyarakat, termasuk ibu rumah tangga dan warga yang belum memiliki pekerjaan.

“Semua harus dilatih, sehingga lahir kampung tenun bomba dengan ciri khas Parigi Moutong,” ungkapnya.

Terkait pemasaran, Dr. Farid menekankan peran penting pemerintah daerah sebagai pemicu utama. Menurutnya, pemerintah harus menjadi pembeli awal produk-produk tersebut, termasuk untuk pengadaan pakaian dinas dan seragam, agar para perajin memiliki kepastian pasar.

“Kalau pemerintah tidak memulai membeli, kegiatan ini bisa gagal. Pemerintah harus membuka pasar terlebih dahulu agar masyarakat tidak putus asa,” katanya.

Ia juga mengusulkan agar pengadaan pakaian dinas dilakukan melalui satu pintu dengan menggunakan motif bomba khas Parigi Moutong sebagai bentuk keberpihakan terhadap produk lokal.

Baca juga :  45 anggota Satpol PP dan Damkar Parimo Lulus seleksi PPPK

Dengan strategi tersebut, Dr. Farid meyakini motif bomba Parigi Moutong akan semakin dikenal luas dan menjadi identitas daerah yang melekat di benak masyarakat.

“Kalau orang menyebut Parigi Moutong, yang teringat adalah tenun bomba dan motif khasnya. Itu yang ingin kita bangun bersama,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Dr. Farid mengapresiasi penyelenggaraan sayembara motif budaya ini dan berharap Parigi Moutong dapat menjadi embrio pengembangan motif bomba di Sulawesi Tengah yang didukung kajian akademik serta sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

“Mari kita fokus mengembangkan satu produk budaya ini terlebih dahulu, agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.

Total Views: 3648

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *