Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Bencana & Kemanusiaan

BPBD Parimo Bahas Potensi Sesar Teluk Tomini, Dorong Mitigasi dan Kesadaran Bencana

×

BPBD Parimo Bahas Potensi Sesar Teluk Tomini, Dorong Mitigasi dan Kesadaran Bencana

Sebarkan artikel ini
BPBD Kabupaten Parigi Moutong ,menggelar diskusi publik di salah satu kafe di Parigi. Foto: Fita

Bisalanews.id, Parmout – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menggelar diskusi publik bertajuk “Mengenali Sejarah dan Potensi Ancaman Sesar Lokal di Teluk Tomini”, Selasa (21/10), di salah satu kafe di Kota Parigi.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi pemerintah daerah, akademisi, pakar kebencanaan, dan masyarakat untuk memperdalam pemahaman tentang potensi gempa bumi di wilayah pesisir utara Sulawesi Tengah — kawasan yang dikenal memiliki aktivitas seismik cukup tinggi.

Example 300x600

Diskusi dihadiri oleh Kepala Stasiun Geofisika Palu, perwakilan BMKG, sejumlah OPD teknis, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), MDMC, praktisi lingkungan, organisasi masyarakat, serta media lokal.


Wilayah Rawan, Tiga Sesar Aktif Melintas di Parimo

Kabupaten Parigi Moutong diketahui memiliki tiga sesar aktif yang berpotensi memicu gempa bumi, yaitu Sesar Tokararu, Sesar Sausu, dan Sesar Tomini. Berdasarkan peta risiko bencana, wilayah pesisir Parimo tergolong zona paling rawan sehingga peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dinilai sangat penting.

Baca juga :  Bupati Parigi Moutong Soroti Tambang Ilegal Usai Tewaskan Pekerja

Dalam sesi pemaparan, para ahli menampilkan data geologi dan peta sesar yang menunjukkan potensi pergerakan lempeng di sekitar Teluk Tomini.

“Salah satu perhatian utama adalah potensi pergerakan sesar lokal yang dapat memicu gempa berkekuatan sedang hingga kuat. Karena itu, pemahaman terhadap karakteristik sesar sangat penting untuk mendukung mitigasi berbasis sains dan kearifan lokal,” ujar Ir. Drs. Abdullah, MT, Dosen Teknik Geofisika FMIPA Universitas Tadulako.


Belajar dari Sejarah: Gempa Dahsyat 1938 di Teluk Tomini

Plt Kepala BPBD Parimo, Rivai, ST, M.Si, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya edukasi kebencanaan yang menyasar seluruh lapisan masyarakat.

“Kita tidak boleh lengah. Wilayah kita pernah terdampak gempa besar disertai tsunami pada era 90-an, bahkan sejarah mencatat bencana dahsyat pada 1938,” ujarnya.

Pada 20 Mei 1938, gempa berkekuatan Magnitudo 8,6 mengguncang Teluk Tomini dan memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir Parigi Moutong. Menurut catatan BMKG, air laut di Toribulu sempat surut sejauh 80 meter sebelum gelombang setinggi 2–3 meter menghantam daratan, menewaskan sedikitnya 17 orang dan merusak ratusan rumah.

Data dari NOAA juga menyebutkan, gempa tersebut terasa hingga Kalimantan bagian timur. Di Parigi sendiri, 18 orang meninggal, 942 rumah ambruk, dan 184 rumah rusak di 34 desa. Sejumlah daerah seperti Pelawa, Marantale, dan Parigi mengalami kerusakan parah akibat retakan tanah dan pergeseran lapisan bumi.

Rekaman sejarah tersebut juga termuat dalam buku “Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Sulawesi Tengah” karya Masyhuddin Masyhuda, yang menyinggung gempa dan tsunami di wilayah pesisir Donggala dan Teluk Tomini pada tahun yang sama.


Mitigasi Berbasis Data dan Partisipasi Masyarakat

Berangkat dari pengalaman sejarah itu, BPBD Parimo menilai pentingnya literasi kebencanaan berbasis data ilmiah dan kearifan lokal.

“Dengan memahami pola sejarah gempa dan potensi sesar lokal, masyarakat bisa lebih siap dan tangguh menghadapi bencana,” tambah Rivai.

Dari hasil diskusi, peserta merekomendasikan sejumlah langkah strategis kepada pemerintah daerah, di antaranya:

  1. Memperkuat pemetaan jalur sesar lokal di pesisir Teluk Tomini.
  2. Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana.
  3. Mempererat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas lokal untuk memperkuat mitigasi berbasis sains.

Rivai menutup kegiatan dengan menegaskan komitmen BPBD Parimo untuk menjadikan literasi kebencanaan sebagai budaya masyarakat.

“Diskusi ini menjadi langkah nyata menuju Parigi Moutong yang lebih tangguh, waspada, dan siap menghadapi ancaman gempa bumi serta tsunami di masa mendatang,” pungkasnya.

Total Views: 1191

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *