
Bisalanews.id, Parmout – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi El Nino 2026 di ruang Crisis Center, Selasa (31/03/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah pemangku kepentingan guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak iklim.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai S.T, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa kondisi iklim tahun ini masih dipengaruhi dinamika global yang perlu diwaspadai sejak dini.
Ia menekankan pentingnya pemahaman bersama terhadap pola musim yang akan terjadi.
“Untuk Maret hingga Mei, wilayah Parigi Moutong masih berada pada periode musim hujan, sehingga aktivitas masyarakat tetap perlu menyesuaikan dengan kondisi tersebut,” ujarnya di hadapan peserta rakor.
Memasuki pertengahan tahun, lanjut Rivai, akan terjadi peralihan musim yang cukup signifikan.
Ia menyebutkan bahwa bulan Juni hingga Juli menjadi fase awal memasuki musim kemarau di wilayah tersebut.
“Puncak musim kemarau secara umum diperkirakan terjadi pada Agustus, sementara sebagian wilayah utara berpotensi mengalami puncaknya pada September,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa wilayah seperti Bolano, Lambunu, Taopa hingga Moutong memiliki karakteristik iklim yang berbeda dibandingkan daerah lainnya, sehingga durasi kemarau bisa berlangsung lebih lama.
“Durasi musim kemarau di Parigi Moutong berkisar antara satu hingga lima bulan, bahkan di wilayah utara bisa lebih dari itu,” katanya.
Lebih lanjut, Rivai mengungkapkan bahwa kondisi ENSO diprediksi berada pada fase netral hingga pertengahan tahun 2026 sebelum bertransisi menuju El Nino lemah pada semester kedua.
“Kondisi ini perlu diantisipasi karena berpotensi memicu penurunan curah hujan secara bertahap di sejumlah wilayah,” tuturnya.
Selain itu, fenomena IOD juga diperkirakan tetap berada pada kondisi netral hingga pertengahan tahun, sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pola curah hujan dalam waktu dekat.
Dalam rakor tersebut, BPBD turut mendorong langkah mitigasi di berbagai sektor, termasuk pertanian, kehutanan, energi, dan kesehatan masyarakat, guna mengurangi risiko yang ditimbulkan.
“Penyesuaian kalender tanam, efisiensi penggunaan air, serta peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan menjadi langkah penting yang harus dilakukan bersama,” tegas Rivai.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, melalui penyediaan air bersih, pemantauan kualitas udara, serta kesiapan layanan kesehatan.
“Sinergi antarinstansi dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi El Nino 2026, sehingga dampaknya dapat diminimalkan secara optimal,” pungkasnya.
















