Bisalanews.id – Irsan selaku tokoh masyarakat dan pemuda dari Siniu, bersama masyarakat setempat, mengadakan pertemuan dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Parigi Moutong. (05/03/2023)
Pertemuan tersebut diadakan guna membahas masalah yang tengah mengemuka terkait ketidakpastian harga tanah di wilayah mereka.
“Selama ini belum ada keputusan bersama terkait harga tanah. Keputusan hanya diambil oleh pihak kecamatan secara individual” ungkap Irsan. Menyoroti kebijakan yang belum memberikan kejelasan kepada masyarakat terkait penetapan harga tanah.
Salah satu tokoh masyarakat Siniu menyatakan keprihatinan terhadap sikap pemerintah kecamatan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.
Dia menekankan pentingnya musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama terkait harga tanah di wilayah tersebut.
Irsan menambahkan, “Harga tanah yang di beli oleh PT ATI saat ini hanya bertahan di 12.000/7.500 dan turun hingga 5.000 per meter persegi, Hal ini sangat merugikan masyarakat Siniu.”
Dia menyoroti bahwa permasalahan utama bukanlah penolakan terhadap kehadiran perusahaan, melainkan harga tanah yang minim, yang dapat menghabiskan harta masyarakat dalam beberapa tahun ke depan.
“Ini bukan persoalan menolak perusahaan, tetapi harga tanah yang menjadi masalah utama. Dalam 5-10 tahun ke depan, harta kami akan habis akibat penjualan lahan ini, sementara perusahaan belum memiliki izin yang jelas” tambah Irsan.
Menyinggung perjanjian awal dengan PT ATI (Anugerah Tehnik Industri) yang berganti nama menjadi ATS (Anugerah Tambang Smelter), Irsan mengungkapkan kekhawatiran terkait perubahan tersebut.
“Dimana Perusahaan awalnya menyatakan tidak akan ada tambang, namun dengan pergantian nama menjadi ATS, keraguan kami semakin bertambah untuk mendukung pembuatan tambang di Siniu.”
Mengingat Siniu adalah daerah rawan terhadap angin, Irsan menyampaikan bahwa penggusuran 1.240 hektar tanah dapat berdampak pada bencana alam di wilayah tersebut.
Dengan tegas, Irsan menutup pernyataannya dengan mengungkapkan bahwa kehadiran mereka dalam pertemuan ini bukanlah yang pertama dan terakhir. Mereka berkomitmen untuk terus menindak lanjuti masalah tanah mereka dan kemungkinan dukungan yang semakin meluas dari masyarakat .
















