Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Kultur

Benteng Otanaha, Jejak Sejarah Gorontalo di Atas Bukit

×

Benteng Otanaha, Jejak Sejarah Gorontalo di Atas Bukit

Sebarkan artikel ini
Bagian depan Benteng Otanaha.Sumber Wikipedia

Di atas perbukitan yang menghadap Danau Limboto, berdiri kokoh sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu hubungan diplomatik, perlawanan, dan kejayaan masa lampau Kerajaan Gorontalo.

Namanya Benteng Otanaha, sebuah bangunan pertahanan yang dibangun pada awal abad ke-16 dan kini menjadi cagar budaya kebanggaan Provinsi Gorontalo.

Example 300x600

Terletak di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Benteng Otanaha tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga menjadi destinasi wisata unggulan dengan pesona panorama alam yang menakjubkan.

Perjalanan Menapaki 348 Anak TanggaUntuk mencapai lokasi benteng, pengunjung harus menapaki 348 anak tangga yang terbagi dalam empat pos persinggahan.

Dari dasar ke pos pertama terdapat 52 anak tangga, lalu berturut-turut 83 tangga ke pos kedua, 53 ke pos ketiga, 89 ke pos keempat, dan terakhir 71 anak tangga menuju lokasi benteng utama.

Meskipun menantang, perjalanan ini menawarkan pengalaman tersendiri, terutama dengan pemandangan indah Kota Gorontalo dan Danau Limboto yang terbentang luas di kejauhan.

Baca juga :  Ahmad Ali Bergerak Cepat Salurkan Bantuan ke Korban Banjir di Parigi Moutong

Dibangun dari Telur Burung MaleoBenteng Otanaha dibangun menggunakan campuran batu, pasir, kapur, dan putih telur burung Maleo sebagai perekat alami.

Struktur bangunannya berbentuk bulat menyerupai angka delapan, dengan tinggi sekitar tujuh meter dan dinding yang dilengkapi celah-celah pengintaian.

Menurut sejarah, benteng ini didirikan sekitar tahun 1522 hingga 1525 atas kesepakatan antara Raja Ilato, penguasa Kerajaan Gorontalo, dan pelaut Portugis yang kapalnya terdampar akibat cuaca buruk dan kehabisan logistik saat melintasi Teluk Tomini.

Sebagai bentuk kerja sama pertahanan, dibangunlah tiga benteng di kawasan Dembe, yakni Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu.Dari Aliansi Menjadi PerlawananAliansi dengan Portugis tak bertahan lama.

Ketika Portugis dianggap menyalahgunakan kesepakatan dan memperalat kekuasaan lokal, muncullah perlawanan dari rakyat Gorontalo.

Putra Raja Ilato, yakni Naha, bersama saudaranya Ndoba dan Tiliaya, memimpin pemberontakan untuk mengusir Portugis dari wilayah mereka.

Baca juga :  Gerak Cepat Sekdis Sosial Parigi Moutong, Bantu Kebutuhan Seorang Lansia

Dalam pertempuran tersebut, mereka dibantu oleh empat pemimpin angkatan laut yang dikenal sebagai Apitalao Lakoro, Lagona, Lakadjo, dan Djailani.

Keberhasilan mereka menandai berakhirnya dominasi Portugis dan dimulainya era baru pertahanan lokal yang lebih mandiri.

Dinasti dan Warisan BudayaKisah Benteng Otanaha tak lepas dari sejarah panjang kerajaan-kerajaan di Gorontalo.

Sejak abad ke-15, wilayah ini telah dikuasai oleh Kerajaan Pinohu (Pinogu), yang kemudian berganti menjadi Tuwawa (Suwawa), lalu menjadi Kerajaan Bune (Bone).

Pada masa pemerintahan Wadipalapa II sekitar tahun 1585, dilakukan ekspansi damai ke berbagai penjuru wilayah, termasuk Dembe, di mana benteng Otanaha berdiri.

Setelah kembali dari perantauan, Naha menikahi seorang perempuan bernama Ohihiya, dan dari pernikahan ini lahirlah dua putra: Pahu dan Limonu, yang kemudian melanjutkan garis keturunan kerajaan.

Nama ketiga benteng pun diabadikan sesuai nama keluarga kerajaan tersebut: Otanaha (benteng Naha), Otahiya (benteng Ohihiya), dan Ulupahu (benteng Pahu).

Baca juga :  Pj Bupati Parimo Hadiri Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas GenRe Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah

Cagar Budaya dan Destinasi WisataPada tahun 2008, Benteng Otanaha ditetapkan sebagai cagar budaya nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Benteng ini kini menjadi salah satu ikon wisata Gorontalo, tidak hanya karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena letaknya yang strategis dan menawarkan pemandangan yang memukau.

Pemerintah daerah juga terus melakukan upaya pelestarian, termasuk renovasi dan pemugaran untuk menjaga kelestarian situs ini agar tetap bisa dinikmati generasi mendatang.

Benteng Otanaha bukan sekadar tumpukan batu tua di atas bukit, tetapi simbol perlawanan, kebijaksanaan diplomasi, dan identitas Gorontalo yang tak lekang oleh waktu.

Referensi:Indonesia Kaya. (2021). Benteng Otanaha, Jejak Portugis di Gorontalo.

Wikipedia Indonesia. Benteng Otanaha.

VOI Gorontalo. (2022). Wisata Sejarah dan Lokasi Benteng Otanaha.

Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.Eraku, Sunarty. (2020). Sejarah Benteng Otanaha.

Universitas Negeri Gorontalo.

Total Views: 1715

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *