Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Cerita

Dari Gagal ke Gemilang: Perjalanan Bintang Menembus Duta Bahasa 2026

×

Dari Gagal ke Gemilang: Perjalanan Bintang Menembus Duta Bahasa 2026

Sebarkan artikel ini
Finalis Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2026, Dwi Bintang Dermawan E. Yasin.

Parigi Moutong, Bisalanews.id – Tidak semua kegagalan datang untuk menghancurkan mimpi. Kadang, kegagalan justru hadir sebagai jeda mengajarkan seseorang untuk mengenali dirinya lebih dalam sebelum kembali melangkah dengan versi terbaiknya.

Itulah yang dialami Dwi Bintang Dermawan E. Yasin, mahasiswa strata satu di UIN Datokarama Palu. Di balik senyum dan pencapaiannya hari ini sebagai bagian dari Finalis Duta Bahasa 2026, tersimpan cerita tentang rasa kecewa, keraguan, hingga perjuangan panjang untuk bangkit dari kegagalan.

Example 300x600

Satu tahun sebelumnya, Bintang pernah berada di titik yang membuatnya hampir menyerah.

Saat pengumuman finalis Pemilihan Duta Bahasa 2025 diumumkan, namanya tak ada dalam daftar. Harapan yang selama ini dibangun runtuh dalam hitungan detik. Kekecewaan itu datang tanpa aba-aba, meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.

“Rasanya kosong. Saat itu saya kehilangan semangat untuk mencoba hal-hal baru. Bahkan sempat merasa tidak kompeten dan selalu gagal dalam setiap hal yang saya coba,” kenangnya.

Kegagalan itu perlahan berubah menjadi suara-suara kecil di dalam pikirannya keraguan, rasa tidak cukup baik, hingga pertanyaan tentang kemampuan diri sendiri. Baginya, bukan hanya soal tidak lolos sebuah ajang, tetapi juga tentang kepercayaan diri yang ikut runtuh bersamaan dengan pengumuman tersebut.

Baca juga :  Pemkab Parimo Gelar Sosialisasi Pendidikan Inklusif Anak Usia Dini dalam Rangka Hardiknas 2025

Namun, hidup rupanya selalu memberi pilihan: berhenti atau bangkit.

Bintang memilih memberi ruang bagi dirinya untuk kecewa. Ia tidak memaksa dirinya terlihat kuat. Ia menerima bahwa gagal memang menyakitkan. Tetapi setelah melewati fase itu, ia mulai melihat kegagalan dari sudut yang berbeda bukan sebagai akhir, melainkan sebagai bahan evaluasi.

Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang kurang? Apakah kemampuan berbicara di depan publik? Cara membangun argumentasi? Atau sikap saat wawancara?

“Mengakui kekurangan memang menyakitkan, tetapi itu satu-satunya cara untuk bertumbuh,” ujarnya.

Dari sana, perjalanan baru dimulai.

Alih-alih tenggelam dalam penyesalan, Bintang justru membuka banyak pintu kesempatan yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan. Ia mulai aktif mengikuti berbagai ajang pengembangan diri mulai dari duta baca, debat tingkat nasional, hingga mencoba peran sebagai pembawa acara.

Setiap pengalaman menjadi ruang belajar. Sedikit demi sedikit, rasa percaya diri yang sempat runtuh mulai dibangun kembali.

“Saya belajar kembali bagaimana ingin dikenal dunia, memperbaiki citra diri sedikit demi sedikit,” katanya.

Baca juga :  Gubernur Sulteng Tambah Armada Damkar dan Sarpras Pertanian di Parigi Moutong

Perubahan besar tidak datang dalam semalam. Tidak ada jalan pintas. Semua dibangun melalui proses panjang yang sunyi, latihan, evaluasi, jatuh, lalu mencoba lagi.

Hingga akhirnya, usaha itu menemukan jalannya.

Tahun 2026 menjadi saksi perjalanan yang tidak sia-sia. Nama Bintang kini berdiri sebagai bagian dari keluarga besar Finalis Duta Bahasa 2026, sebuah pencapaian yang lahir bukan dari keberuntungan semata, melainkan hasil dari keberanian untuk bangkit setelah gagal.

Bagi Bintang, batas terbesar manusia sering kali bukan berasal dari keadaan, tetapi dari batas yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.

“Dari ragu menjadi mampu, dari usaha menjadi nyata. Apa yang diusahakan dengan hati akan sampai pula ke hati. Karena setiap usaha yang dilakukan dalam sunyi akan menemukan gemanya pada waktu yang tepat,” tuturnya penuh makna.

Di balik perjuangannya mengejar mimpi, Bintang juga membawa cerita tentang tempat ia tumbuh. Ia merupakan putra kelahiran Kelurahan Bantaya, sebuah wilayah yang berada tidak jauh dari pusat ibu kota Kabupaten Parigi Moutong, tepatnya di Kecamatan Parigi.

Lahir dan besar di lingkungan yang sederhana, Bintang tumbuh dengan nilai-nilai kerja keras dan semangat belajar yang kuat. Kedekatannya dengan ibu kota kabupaten membuatnya terbiasa melihat dinamika pendidikan, budaya, dan perkembangan daerah, sesuatu yang perlahan membentuk cara pandangnya terhadap masa depan.

Baca juga :  Basuki Soroti Pemangkasan Anggaran Dinas PU Parigi Moutong, Desak Prioritaskan Pembangunan Jalan dan Drainase

Bagi Bintang, Bantaya bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan ruang pertama yang mengajarkannya tentang perjuangan dan harapan. Dari tempat yang berada di tepian perkembangan Kabupaten Parigi Moutong itu, tumbuh mimpi seorang anak muda yang percaya bahwa asal daerah bukanlah batas untuk berkembang.

Perjalanan Bintang menjadi Finalis Duta Bahasa 2026 pun menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari mana saja termasuk dari sebuah desa yang tak jauh dari pusat kota, tetapi menyimpan banyak cerita tentang tekad dan kerja keras.

Kisah Bintang adalah pengingat sederhana bahwa keberhasilan tidak selalu datang pada percobaan pertama. Terkadang, jalan terbaik justru muncul setelah seseorang berani berdamai dengan kegagalan, memperbaiki diri, lalu melangkah lagi dengan keyakinan baru.

Sebab pada akhirnya, mimpi bukan tentang siapa yang tidak pernah gagal melainkan siapa yang memilih tetap berjalan meski pernah jatuh.

Total Views: 11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *