
Penulis : Awalia Pakaya – Mahasiswa UIN Datokarama Palu
Di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, tinggal seorang pria paruh baya bernama Pasisa Nune.
Sejak usia belasan tahun, laut adalah rumah keduanya. Ia tumbuh besar bersama suara debur ombak dan deru mesin perahu. Setiap pagi, Pasisa biasa melaut, menebar jaring, dan membawa pulang ikan sebagai penghidupan untuk istri dan dua anaknya.
Namun, dua tahun terakhir segalanya berubah.Air laut yang dulunya jernih dan penuh kehidupan kini berwarna keruh, berbau aneh, dan nyaris tak berikan hasil tangkapan.
Penyebabnya adalah aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kayuboko yang mencemari laut dengan limbah mengandung logam berat, termasuk sianida.
“Dulu saya bisa dapat 10 sampai 15 kilogram ikan sekali melaut. Sekarang jangankan ikan, yang ada cuma air beracun dan jaring bolong,” ucap Pasisa dengan suara lirih.
Ia sudah mencoba bertahan. Berpindah lokasi tangkap, mengganti alat, bahkan meminjam perahu milik kerabat untuk menjangkau lebih jauh.
Tapi laut tetap membisu. Ekosistem pesisir di sekitar Parigi rusak parah. Terumbu karang mati, biota laut menghilang. Laut yang dulu menghidupi, kini menyingkirkan para nelayan satu per satu.
Dengan berat hati, Pasisa menjual perahunya warisan ayahnya dulu,demi menyambung hidup.Kini, ia bekerja sebagai buruh bangunan. Setiap hari memanggul semen, memaku rangka besi, dan mencampur adukan beton. Profesi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Bukan ini keahlian saya. Tangan saya biasa menggenggam tali jaring, bukan palu. Tapi mau bagaimana lagi? Anak harus sekolah, dapur harus tetap ngebul,” tuturnya sambil mengusap keringat di dahi.
Pendapatannya tak menentu. Tubuhnya yang sudah menua sering tak kuat dengan pekerjaan kasar itu. Tapi baginya, lebih baik mencoba bertahan di darat, daripada menunggu laut yang tak lagi bersahabat.
Pasisa hanyalah satu dari puluhan bahkan ratusan nelayan di pesisir Parigi Moutong yang kehilangan mata pencaharian akibat rusaknya lingkungan laut karena ulah tambang ilegal.
Kini, ia hanya berharap pemerintah bisa turun tangan. Menutup tambang ilegal yang meracuni laut dan memberi solusi nyata untuk para nelayan yang kehilangan arah.
“Kalau bisa, saya ingin kembali ke laut. Bukan sebagai buruh bangunan. Tapi sebagai nelayan. Karena di situlah hati saya tinggal.”






