
Parigi Moutong,Bisalanews.id– Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disbilitas (Yan Resos) Dinas Sosial terus mendorong penyandang disabilitas agar memiliki keterampilan yang dapat mendukung kemandirian dan membuka peluang usaha.
Upaya tersebut dilakukan melalui Workshop Penguatan Kemitraan Usaha Produktif Penyandang Disabilitas Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2026.
Kegiatan ini menyasar penyandang disabilitas yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengikuti pelatihan keterampilan usaha sederhana.
Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial (Yan Resos), Rahmayani Rachman, mengatakan peserta workshop berasal dari siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) serta sejumlah penyandang disabilitas yang merupakan alumni SLB.
“Pesertanya ini kita ambil dari anak-anak SLB yang sudah bisa mandiri, seperti tingkat SMP dan SMA. Ada juga mantan-mantan siswa SLB yang merupakan penyandang disabilitas,” kata Rahmayani usai menghadiri pembukaan di Mako Tagana Parigi Moutong, Senin (28/09/2026)
Ia menjelaskan, jumlah peserta dalam kegiatan tersebut sebanyak 30 orang. Dari jumlah itu, 20 peserta berasal dari SLB, sedangkan 10 peserta lainnya merupakan penyandang disabilitas yang berasal dari sejumlah kelurahan di Kabupaten Parigi Moutong.
“Total pesertanya ada 30 orang. Dari SLB sebanyak 20 orang, sisanya dari kelurahan-kelurahan yang ada penyandang disabilitasnya,” ujarnya.
Menurut Rahmayani, workshop tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi diarahkan agar peserta memiliki kemampuan praktis yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha produktif.
“Tujuannya supaya mereka punya kemampuan membuat sesuatu yang bisa dijual, misalnya cemilan-cemilan sederhana. Jadi keterampilan yang diberikan ini mudah dilakukan dan bisa dikembangkan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan praktik pembuatan banana roll. Rahmayani menyebutkan, sebelumnya peserta sempat mengusulkan pelatihan pembuatan keripik, namun setelah mempertimbangkan waktu dan anggaran, dipilih keterampilan yang lebih sederhana.
“Kemarin sebenarnya mereka minta pembuatan keripik. Cuma kita rasa karena waktunya singkat dan anggarannya juga terbatas, kita tanyakan kepada pemandu apa yang bagus, yang sederhana dan tidak memakan waktu,” ungkapnya.
Pilihan tersebut juga mempertimbangkan aktivitas peserta yang sebagian masih bersekolah.
Rahmayani mengatakan waktu pelatihan harus disesuaikan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mereka.
“Kasihan anak-anak, kalau sudah jam 12 ke atas mereka pulang sekolah. Jadi kita tidak bisa menggunakan waktu terlalu lama,” katanya.
Selain penguatan keterampilan usaha, Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan penyandang disabilitas yang memerlukan alat bantu.
Rahmayani mencontohkan salah seorang penyandang disabilitas asal Baliara bernama Adrian, yang sebelumnya mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk.
“Yang kemarin itu anak SLB juga. Kemarin sempat ada yang meminta bantuan kursi roda. Sebelumnya dia memang hampir tidak bisa melakukan apa-apa dan lebih banyak di tempat,” tuturnya.
Namun, berdasarkan cerita keluarga, kondisi Adrian kemudian mengalami perubahan. Ia mulai mampu berdiri dan berjalan meski belum sempurna.
“Orang tuanya bilang, ketika mendengar suara guntur dia kaget, kemudian langsung berdiri. Setelah itu sudah bisa berjalan, walaupun jalannya belum terlalu sempurna dan masih sering lama duduk,” kata Rahmayani.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perhatian dan pendampingan yang berkelanjutan terhadap penyandang disabilitas, termasuk memberikan akses terhadap alat bantu maupun keterampilan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Intinya kita ingin mereka bisa lebih mandiri sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki,” pungkasnya.













