Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Sosial Masyarakat

Protokoler Amburadul di HUT ke-24 Parigi Moutong: Tokoh Agama dan Pimpinan Lembaga Duduk Paling Belakang

×

Protokoler Amburadul di HUT ke-24 Parigi Moutong: Tokoh Agama dan Pimpinan Lembaga Duduk Paling Belakang

Sebarkan artikel ini
Ketua MUI, Ketua Baznas dan tokoh agama tampak paling belakang di antara tamu yang ada. Jumat, (10/04/2026) – Foto : MRP

Bisalanews.id, Parmout – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-24 Kabupaten Parigi Moutong yang seharusnya menjadi momentum kebanggaan justru menuai sorotan.

Sejumlah tamu undangan penting dilaporkan hadir tanpa mendapatkan sambutan resmi dari panitia pelaksana, menimbulkan kesan kurangnya kesiapan dan koordinasi dalam kegiatan seremonial tersebut.

Example 300x600

Sejak awal acara, suasana di lokasi upacara terlihat kurang tertata dengan baik. Beberapa tamu undangan tampak kebingungan mencari tempat duduk, sementara panitia terkesan tidak sigap dalam mengarahkan para undangan sesuai dengan posisi dan peran mereka dalam struktur daerah.

Yang paling menjadi perhatian adalah posisi duduk para tokoh agama yang justru berada di bagian belakang. Padahal, dalam tradisi dan etika pemerintahan daerah, tokoh agama memiliki kedudukan penting sebagai pilar moral dan sosial di tengah masyarakat.

Baca juga :  Bulan penuh berkah, Polda Sulteng Bagikan 2000 Paket Sembako

Tidak hanya itu, Ketua Baznas serta Ketua MUI Kabupaten Parigi Moutong juga terlihat duduk di barisan belakang, bahkan berada di belakang para camat dan sejumlah pejabat organisasi perangkat daerah (OPD) bahkan salah satu dari tokoh agama meminta air minum ke wartawan.

Kondisi ini dinilai tidak mencerminkan penghormatan terhadap peran strategis mereka dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Baca juga :  Musrenbang RKPD 2027, Bappelitbangda Dorong SDM Pertanian Jadi Prioritas

Beberapa pihak yang hadir menyayangkan kejadian tersebut. Mereka menilai bahwa peringatan hari jadi daerah semestinya menjadi ajang untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan lembaga keagamaan.

Kondisi ini juga memunculkan pertanyaan terkait profesionalitas panitia dalam menyusun protokoler acara. Minimnya koordinasi dan pengaturan tempat duduk dianggap sebagai bentuk kelalaian yang seharusnya bisa dihindari dalam acara resmi tingkat kabupaten.

Selain itu, absennya sambutan atau penerimaan resmi terhadap para tamu undangan semakin memperkuat kesan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak dipersiapkan secara maksimal.

Baca juga :  Hadiri Perayaan Natal, Pj Bupati Parigi Moutong Ajak Umat Terus Bersinergi Membangun Daerah

Hal ini tentu berbanding terbalik dengan semangat perayaan hari jadi yang seharusnya berlangsung khidmat dan penuh penghormatan.

Sejumlah tokoh masyarakat berharap agar kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah. Penataan acara, termasuk penghormatan terhadap tamu undangan, merupakan hal mendasar yang tidak boleh diabaikan dalam setiap kegiatan resmi.

Momentum ulang tahun ke-24 Kabupaten Parigi Moutong sejatinya menjadi refleksi perjalanan daerah. Namun, insiden ini justru menjadi pengingat bahwa aspek tata kelola acara dan penghargaan terhadap tokoh masyarakat masih perlu dibenahi ke depan.

Total Views: 292

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *