
Penulis : Awalia Pakaya
Mahasiswa UIN Datokarama Palu
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan bukit hijau, hiduplah seorang lelaki renta bernama Pak Amin.
Usianya telah menginjak 65 tahun. Rambutnya memutih, kulitnya legam oleh matahari, dan tulang-tulangnya mulai rapuh. Tapi semangatnya… masih sekuat baja.
Pak Amin bukan orang kaya. Ia hanya seorang petani kecil yang hidup sederhana bersama istrinya, Bu Salma, dan anak bungsunya, Rijal, yang masih duduk di bangku SMP.
Anak pertamanya sudah menikah dan tinggal di kota, tetapi tidak bisa banyak membantu. Hidup memang keras di kampung, apalagi saat panen tak lagi menjanjikan.
Harga gabah turun, pupuk langka, dan cuaca tak menentu.
Namun Pak Amin punya mimpi,bukan untuk dirinya, tapi untuk istri dan anaknya. Ia ingin Rijal sekolah tinggi, menjadi orang sukses, tidak seperti dirinya yang hanya lulus SD.
Dan ia ingin Bu Salma tak lagi harus memikul air dari sumur jauh, tak lagi menjahit hingga larut malam demi menambal kebutuhan sehari-hari.
Suatu malam, sambil menyeruput teh hangat dan menatap bulan yang menggantung di langit, Pak Amin berkata pelan kepada istrinya:
“Salma… aku mau ke kota. Mungkin ke negeri seberang. Ada tetangga bilang, di Malaysia sana, buruh tua pun masih bisa kerja di kebun. Gajinya lebih dari cukup untuk menyekolahkan Rijal sampai kuliah.”Bu Salma terdiam.
Matanya basah. Tapi ia tahu, lelaki yang duduk di depannya adalah suaminya yang tak kenal lelah, yang selalu menepati janji.
Beberapa minggu kemudian, dengan sisa uang tabungan dan pinjaman kecil dari koperasi desa, Pak Amin pun berangkat. Ia bekerja di kebun sawit di Malaysia.
Hari-harinya diisi dengan peluh, luka di tangan, dan rindu yang menggantung tiap malam. Ia tidur di barak sempit, makan seadanya, dan sering mengirimkan hampir seluruh gajinya ke kampung.
Rijal pun melanjutkan sekolah. Bu Salma tak lagi menjahit di malam hari. Hidup perlahan membaik. Tapi tubuh Pak Amin tak kuat selamanya.
Pada musim penghujan tahun ketiga, Pak Amin jatuh sakit. Ia tak mau pulang karena belum selesai menunaikan janji pada anak dan istrinya.
“Sedikit lagi,” katanya dalam surat terakhirnya. “Tunggu ayah pulang bawa ijazah Rijal.”
Namun takdir berkata lain.Pak Amin meninggal di negeri orang, dalam sunyi dan letih yang panjang.
Tak ada sanak, hanya teman-teman buruh yang mengurus jenazahnya.Ia pulang ke kampung dalam peti kayu.Suasana kampung itu mendadak sunyi ketika mobil jenazah tiba. Rijal memeluk peti itu erat-erat, menangis sejadi-jadinya.
Di dalam genggaman tangannya, ada surat terakhir dari ayah:
“Nak, mungkin ayah tidak bisa melihatmu memakai toga. Tapi yakinlah, setiap tetes keringat ayah adalah doa, agar kamu jadi orang yang lebih baik dari ayah. Jaga ibumu. Raih impianmu. Dan jangan pernah lupa pulang.”
Rijal berjanji, di hadapan peti ayahnya, di bawah langit kampung yang kini terasa sendu:Ia akan jadi orang yang sukses. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk menepati janji kepada ayah yang mencintainya tanpa batas.






