
Parigi Moutong,Bisalanews.id – Banjir bandang menerjang Dusun II, Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Rabu dini hari, 26 Agustus 2026.
Bencana tersebut tidak hanya merendam puluhan rumah, tetapi juga menyebabkan sejumlah bangunan rusak dan material lumpur serta kayu menutup ruas Jalan Trans Sulawesi.
Salah seorang warga Dusun II, Elo (69), menjadi salah satu warga yang mengalami langsung derasnya terjangan banjir bandang. Ia bahkan sempat terbawa arus sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh anaknya.
Menurut Elo, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 WITA, setelah hujan mengguyur wilayah Desa Avolua sejak sekitar pukul 20.00 WITA, Selasa (25/08/2026).
“Saya terbawa banjir. Kemudian anak saya menemukan saya sudah terjepit material kayu dan drum besi,” ujar Elo saat menceritakan kejadian tersebut.
Elo mengatakan, kondisi saat banjir datang berlangsung sangat cepat. Material kayu dan lumpur terbawa arus hingga masuk ke permukiman warga.
“Saya tidak bisa bergerak karena terjepit kayu dan drum. Anak saya kemudian berusaha menyelamatkan saya,” katanya.
Meski berhasil selamat, Elo kini harus menghadapi kondisi rumahnya yang tidak lagi layak ditempati. Lumpur setinggi sekitar 50 sentimeter masuk ke dalam rumah dan memenuhi sejumlah bagian bangunan.
“Rumah saya sudah tidak bisa ditempati karena lumpur masuk sampai sekitar 50 sentimeter,” ungkapnya.
Atas kondisi tersebut, Elo berharap pemerintah segera menyediakan tenda sebagai hunian sementara bagi dirinya bersama keluarga, sehingga mereka memiliki tempat tinggal yang aman selama proses pembersihan dan penanganan pascabencana berlangsung.
“Kami berharap bisa dibangunkan tenda untuk tempat tinggal sementara, karena rumah sudah tidak bisa dihuni,” harap Elo.
Berdasarkan pendataan awal di lokasi, sedikitnya 12 kepala keluarga (KK) dilaporkan mengungsi akibat banjir bandang tersebut.
Selain menyebabkan warga harus meninggalkan rumah, bencana juga berdampak terhadap bangunan di wilayah terdampak. Sebanyak 12 unit rumah mengalami kerusakan, sementara sekitar 55 unit rumah lainnya terendam banjir.
Material lumpur dan kayu juga terbawa hingga ke sejumlah fasilitas dan lingkungan sekitar permukiman.
Salah satu dampak lainnya terjadi pada pagar pabrik durian yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat diterjang banjir.
Banjir bandang juga berdampak terhadap akses transportasi utama. Ruas Jalan Trans Sulawesi dilaporkan tertimbun lumpur dan material kayu sepanjang kurang lebih 500 meter.
Tumpukan material tersebut sempat mengganggu kelancaran arus kendaraan dan menyebabkan kemacetan di jalur utama tersebut.
Pembersihan material menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar akses transportasi masyarakat kembali normal dan aktivitas warga dapat berjalan seperti biasa.
Sementara itu, dampak banjir terhadap sektor perkebunan, pertanian, perikanan dan peternakan hingga kini masih dalam proses pendataan oleh pihak terkait.
Pendataan tersebut diperlukan untuk mengetahui secara lebih rinci jumlah kerugian maupun luas sektor usaha masyarakat yang terdampak bencana.
Pemerintah dan unsur terkait diharapkan dapat mempercepat penanganan di lokasi, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, pembersihan material lumpur dan kayu, serta penyediaan tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya tidak dapat dihuni.
Banjir bandang yang terjadi di Desa Avolua menjadi pengingat bahwa kondisi masyarakat terdampak membutuhkan penanganan cepat, tidak hanya dalam proses evakuasi, tetapi juga pada tahap pemulihan setelah bencana.
Bagi Elo dan warga lainnya, tersedianya hunian sementara menjadi kebutuhan mendesak agar mereka dapat tetap berada di tempat yang aman sembari menunggu proses pembersihan dan penanganan rumah yang terdampak.











